Sabtu, 02 Januari 2016

CHINA YANG BERBAHAGIA

CHINA YANG BERBAHAGIA
Untuk mencapai sebuah  tujuan dibutuhkan perencanaan yang cermat, penghitungan yang akurat serta kompetensi yang memadai. Selain itu strategi mencapai tujuan tak bisa diremehkan, termasuk membangun hubungan dengan orang lain.
Sampai saat ini sudah tak terhitung orang yang berhasil menaklukkan puncak Everest, tetapi tidak ada seorangpun yang pernah sampai ke puncak gunung tersebut dengan kekuatan diri sendiri. Penakluk gunung tersebut membutuhkan penujuk jalan, pengawas dan pengangkut perbekalan, bahkan membutuhkan teman saat menikmati puncak. Memang tidak ada keberhasilan sejati tanpa dukungan orang lain. Semakin besar target yg ingin diraih dan semakin tinggi sasaran yang harus dicapai semakin besar pula dukungan orang dibutuhkan. Sukses individu haruslah menjadi sukses bersama.
Sukacita sejati saat berhasil akan semakin terasa sempurna jika orang lain turut bersukacita karena keberhasilan tersebut. Ketika Yesus sudah menaklukkan maut, DIA memberikan umat-Nya kebahagiaan dengan jaminan. Yesus Kristus bersabda: “kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”. (Mat 28:19-20). Sebuah sikap perduli dan penuh empati. Tuhan Yesus Kristus tidak mau umat-Nya hidup dalam ikatan kekalahan, keraguan dan kecemasan. Oleh sebab itu DIA memberikan penegasan mengenai status, tugas dan kuasa orang percaya, ( Kis 1:8 ). Tuhan Yesus Kristus mau menegaskan bahwa hubungan-hubungan di dunia ini merupakan sebuah rangkaian yang dapat terus-menerus menopang seseorang menuai keberhasilan demi keberhasilan. Artinya jika motivasi kita tulus mengajak orang membuka bisnis bersama, dipastikan usaha tersebut akan berkembang dan berhasil
Dalam konteks Indodesia seluruh potensi keberagaman Suku di Negara ini perlu digerakkan dalam sebuah koridor kebersamaan yang konkrit. Bhineka Tunggal Ika harus menjadi kerangka berpikir sosial masyarakyat Indonesia. Warga negara dari suku China yang mayoritas kuat secara ekonomi perlu didorong sekaligus dipercayai untuk memberdayakan masyarkyat dari suku lain. Pemilik modal dan pengusaha keturunan China perlu memberi upah dan penghargaan yang sama kepada karyawan yg berasal dari suku lain seperti yang mereka berikan kepada kariawan yang berasal dari suku sendiri. Sehingga keadilan, serta kesejahteraan dapat dinikmati bersama. Yang kuat menopang yang lemah supaya jadi kuat, yang lemah bersyukur dan menghargai dukungan yg diterima sekaligus berjuang mandiri dan kuat, dan setelah kuat, kembali ikut menopang orang lemah lain, demikian seterusnya. Sikap Curiga yang berlebihan kepada orang China serta sikap menganggap mereka sebagai suku penompang di kapal Indoesia harus dilenyapkan dari setiap pikiran dan tindakan warga negara indonesia lain. Jika demikian halnya, maka bangsa Indonesia akan menjadi negara raksasa dan memiliki pengaruh yang kuat dalam pergaulan politik regional dan Internasional.
Oleh sebab itu jika anda seorang boss dan memiliki karyawan, hargailah mereka dan anggap mereka bagian dari team anda. Cobalah tulus untuk mengakui peranan mereka dalam sukses anda, maka mereka akan menunjukkan totalitas mendukung anda dan mereka akan merasa memiliki diperusahaan anda. Sebaliknya, jika anda adalah seorang karyawan, tunjukkan bahwa anda sangat bersyukur menjadi bagian dari team dimana anda menjadi karyawan tersebut. Lakukan tugas dengan kesungguhan dan berusaha untuk tetap focus, maka anda akan mengundang admosfir positif melingkupi anda.

Penulis adalah teolog sekaligus pemerhati sosial dan gembala Jemaat di Gereja Bethel Indonesia 
H O T (House Of Truth). Jika anda diberkati melalui renungan ini dan rindu membantu Pengadaan Gedung GBI Aletheia Pamulang, kirimkan Donasi anda ke rekening gereja di bank BCA  dengan nomor rekening: 4731438557, (atas nama Haposan/Tenni Kimin)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar