C H I N A I N D O N E S I A
oleh haposan hutapea STh, MA
Tidak bisa dipungkiri mayoritas suku China di Indonesia memiliki semangat kerja diatas rata-rata. Bekerja di bidang apapun, mereka tampil beda. Profesional dan totalitas merupakan karakter ethos mereka. Di ladang atau dipantai. Dipasar sampai yang dikaki lima, ditoko sampai di Pabrik, mereka bergerak cepat seakan seperti tak kenal lelah. 12 jam dalam satu hari terasa tidak cukup. Dampaknya ialah, mereka meraih hasil besar melampaui hasil yang diraih orang lain.
Demikian juga sikap mereka terhadap hasil kerja. Coba kita amati dan bandingkan dengan sesama suku Indonesia yang lain dengan suku China. Penghasilan yang diperoleh sama, tetapi penggunaan uang sungguh kontras. Kebanyakan Orang Pribumi gaya nya luar biasa, pakaianya up date, gadget yang dikenakan terbaru berbanding terbalik dengan orang China. Mereka berpakaian sederhana, gadget yang mereka gunakan sesuai fungsi tak perlu modern. Bahkan untuk makan sehari-hari rela makan ala kadarnya. Berapa pun hasil yang mereka dapatkan termasuk walau masih dibawah kebutuhan minimun sekalipun, mereka akan berusaha menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung atau infestasi. Itulah sebabnya jika kemudian hari mereka jauh lebih berhasil dari pada kebanyakan masyarakyat Indonesia lain.
Sebagai kelompok masyarakyat yg sadar warna kulit berbeda dan latar belakang migrasi ke Indonesia yang berbeda ditambah dengan pengalaman pahit yang pernah nenek moyang mereka alami dahulu kala di Indonesia, mereka sangat cermat didalam melengkapi diri dengan semua yang berkaitan dengan dokument kependudukan. Dan hal itu menjadi prioritas utama karena mereka sangat sadar betapa penting hal tersebut . Sebagai contoh, Pasangan yang baru menikah tidak akan berbulan madu jika belum memastikan pernikahan mereka sudah tercatat di Catatan Sipil. Mereka tidak makan direstoran sebelum akte lahir anak mereka tersedia. Mereka tidak akan puas sebelum rumah yang dikredit mereka lunas dibayar dan balik nama. Itulah sebabnya mereka siap membayar mahal untuk setiap dokument kependudukan yang sangat erat kaitannya dengan kewarganegaraan serta dokument pendukungnya, seperti KTP, KK, Akte lahir, paspor, dan lain sebagainya. Bahkan mereka sangat super teliti mengenai dokument tersebut, walau satu huruf salah pasti dipersoalkan. Kalau untuk masyarakyat indonesia lain, satu huruf salah itu biasa dan tidak perlu dipersoalkan, tidak demikian halnya bagi orang China. Intinya, mereka tidak mengijinkan setitik peluangpun identitas mereka dipertanyakan.
Sebagai warga yang merasa sebagai anak tunggal Indonesia, Pemahaman orang China, serta ethos kerja mereka yang diatas rata-rata dan ketrampilan mengelola uang, perlu ditiru. Sebaliknya, sebagai salah satu suku yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia, nilai-nilai plus seperti itu perlu mereka tebarkan supaya semua masyarakyat Indonesia dapat maju bersama dan sejahtera bersama pula. Ekslusivisme yang selama ini dianggap menghalangi pembauran perlu ditinggalkan...
Penulis adalah seorang pemerhati sosial sekaligus seorang teolog dan saat ini menggembalakan jemaat di GBI Aletheia Pamulang, dengan menyewa tempat Di gedung / restoran Bami Naga Pamulang.
Jika bapak dan ibu serta saudara tertarik dengan Visi kami dan ingin mewujudkan Visi tersebut? hubungi kami ditempat ibadah setiap Hari Minggu, Pukul 10 WIB atau
Kirimkan Persembahan anda ke rekening gereja, nomor: 4731438557, bank BCA, atas nama Haposan/Tenni Kimin) Tuhan Yesus Kristus memberkati.